Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 3




Kelima,  jumlah kitab hadis yang banyak dengan metode penyusunan yang berbeda-beda. Kitab hadis yang dihasilkan ulama sangat banyak hal ini ditengarai karena jumlah mukharrij al-hadis yang juga banyak jumlahnya.Selain itu, ada pula seorang penghimpun hadis yang menghasilkan kitab himpunan hadis lebih dari satu.
Keenam, adanya periwayatan hadis secara makna.Para sahabat pada umumnya membolehkan periwayatan hadis secara makna.Ini menunjukkan bahwa periwayatan hadis secara makna telah ada.Padahal, untuk mengetahui kandungan petunjuk hadis tertentu perlu mengetahui redaksi tekstual dari hadis yang bersangkutan terutama yang berupa sabda/ucapan Nabi.

A.    Langkah Langkah dalam Penelitian Hadis
Dalam studi hadis, persoalan sanad dan matan merupakan dua unsur yang penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis sebagai sumber otoritas ajaran Nabi Muhammad SAW. Kedua unsur tersebut begitu penting artinya, antara yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat, sehingga kekosongan salah satunya akan berpengaruh dan bahkan merusak eksistensi dan kualitas suatu hadis.[1]
Dalam rangka menghadapi gerakan pemalsuan hadis, para ahli hadis telah mengembangkan sebuah metode penelitian untuk membedakan antara hadis otentik dengan hadis yang lemah atau palsu.[2] Langkah-langkah dalam melakukan penelitian hadis adalah sebagai berikut:
1.   Takhrij al-Hadis
Kata at-takhrij menurut pengertian asal bahasanya ialah “berkumpulnya dua perkara yang berlawanan pada sesuatu yang satu”. Kata at-takhrij sering dimutlakkan pada beberapa macam pengertian, yaitu:
a.   Al-istinbat (hal mengeluarkan).
b.   At-tadrib (hal melatih atau hal pembiasaan).
c.   At-taujih (hal memperhadapkan).
Adapun pengertian at-takhrij yang digunakan untuk maksud kegiatan penelitian hadis ialah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersngkutan.[3]
2.   I’tibar Sanad
Seteleh dilakukan at-takhrij sebagai langkah awal penelitian hadis, maka seluruh sanad hadis dicatat dan dihimpun untuk kemudian dilakukan kegiatan al-i’tibar.
Menurut bahsa, al-i’tibar berarti “peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis”. Sedangkan menurut istilah ilmu hadis, al-i’tibar berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja. Dengan dilakukannya al-i’tibar, maka akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang diteliti, demikian juga nama-nama periwayatnya dan metode periwayatan yang digunakan.[4]
3.   Jam’ur Ruwah
Jam’ur Ruwah (جمع الرواة) terdiri dari dua kata, yaitu kata jam’un  (جمع) yang artinya himpunan, kumpulan dan kata ruwah (رواة) merupakan jama’ taksir dari lafadz rowi (راوى) yang artinya orang yang meriwayatkan atau orang yang menceritakan. Jadi jam’ur ruwah (جمع الرواة) adalah himpunan atau kumpulan para perawi yang ...




Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 4



Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 2






[1].M. Erfan Soebahar, Menguak Fakta Keabsahan Al-Sunah, (Bogor: Kencana, 2003), hlm. 174
[2].Ali Masrur, Teori Common LinkG.H.AJuynbool Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi, (Yogyakarta: LKiS, 2007), hlm 110 – 111
[3].M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 41 – 43
[4].Ibid, hlm. 51 – 52

Disqus Comments