Kelima, jumlah kitab hadis yang banyak dengan
metode penyusunan yang berbeda-beda. Kitab hadis yang dihasilkan ulama sangat
banyak hal ini ditengarai karena jumlah mukharrij al-hadis yang juga
banyak jumlahnya.Selain itu, ada pula seorang penghimpun hadis yang
menghasilkan kitab himpunan hadis lebih dari satu.
Keenam, adanya periwayatan hadis secara
makna.Para sahabat pada umumnya membolehkan periwayatan hadis secara makna.Ini
menunjukkan bahwa periwayatan hadis secara makna telah ada.Padahal, untuk
mengetahui kandungan petunjuk hadis tertentu perlu mengetahui redaksi tekstual
dari hadis yang bersangkutan terutama yang berupa sabda/ucapan Nabi.
A. Langkah
Langkah dalam Penelitian Hadis
Dalam studi
hadis, persoalan sanad dan matan merupakan dua unsur yang penting yang
menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis sebagai sumber otoritas ajaran
Nabi Muhammad SAW. Kedua unsur tersebut begitu penting artinya, antara yang
satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat, sehingga kekosongan salah
satunya akan berpengaruh dan bahkan merusak eksistensi dan kualitas suatu
hadis.[1]
Dalam rangka
menghadapi gerakan pemalsuan hadis, para ahli hadis telah mengembangkan sebuah
metode penelitian untuk membedakan antara hadis otentik dengan hadis yang lemah
atau palsu.[2] Langkah-langkah dalam melakukan penelitian
hadis adalah sebagai berikut:
1.
Takhrij al-Hadis
Kata at-takhrij menurut pengertian asal
bahasanya ialah “berkumpulnya dua perkara yang berlawanan pada sesuatu yang
satu”. Kata at-takhrij sering
dimutlakkan pada beberapa macam pengertian, yaitu:
a.
Al-istinbat (hal mengeluarkan).
b. At-tadrib (hal melatih atau hal
pembiasaan).
c.
At-taujih
(hal memperhadapkan).
Adapun pengertian
at-takhrij yang digunakan untuk
maksud kegiatan penelitian hadis ialah penelusuran atau pencarian hadis pada
berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan yang di dalam
sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersngkutan.[3]
2.
I’tibar Sanad
Seteleh
dilakukan at-takhrij sebagai langkah
awal penelitian hadis, maka seluruh sanad hadis dicatat dan dihimpun untuk
kemudian dilakukan kegiatan al-i’tibar.
Menurut bahsa,
al-i’tibar berarti “peninjauan
terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang
sejenis”. Sedangkan menurut istilah ilmu hadis, al-i’tibar berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu
hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat
seorang periwayat saja. Dengan dilakukannya al-i’tibar,
maka akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang diteliti,
demikian juga nama-nama periwayatnya dan metode periwayatan yang digunakan.[4]
3.
Jam’ur Ruwah
Jam’ur Ruwah (جمع الرواة) terdiri dari dua
kata, yaitu kata jam’un (جمع) yang artinya himpunan, kumpulan dan kata ruwah
(رواة) merupakan jama’ taksir dari lafadz
rowi (راوى) yang artinya orang
yang meriwayatkan atau orang yang menceritakan. Jadi jam’ur ruwah (جمع الرواة) adalah himpunan atau kumpulan para perawi
yang ...Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 4
Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 2
[1].M. Erfan Soebahar, Menguak Fakta Keabsahan Al-Sunah, (Bogor:
Kencana, 2003), hlm. 174
[2].Ali Masrur, Teori Common
LinkG.H.AJuynbool Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi, (Yogyakarta: LKiS,
2007), hlm 110 – 111
[3].M. Syuhudi Ismail, Metodologi
Penelitian Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 41 – 43
[4].Ibid,
hlm. 51 – 52
