Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 4



menceritakan atau meriwayatkan apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seorang (gurunya) mengenai hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.[1]
1.   Ittishal Sanad
Ittishal sanad atau persambungan sanad yaitu tiap-tiap periwayat dalam sanad hadis menerima riwayat hadis dari periwayat hadis terdekat sebelumnya, keadaan itu berlangsung sampai akhir sanad dari hadis itu.[2]
2.   Naqd Sanad
Melakukan naqd atau penelitian sanad ini berkisar tentang kualitas dari para perawi hadis. Meneliti apakah perawi-perawi dalam hadis tersebut sudah memenuhi kriteria-kriteria seorang periwayat. Seperti tentang keadilan dan kedhabithannya. Kemudian tentang persambungan sanadnya, apakah antara periwayat satu dengan periwayat yang lainnya itu bersambung dengan mendengar langsung misalkan seorang murid terhadap gurunya, ataukah terputus yakni tidak ada kejelasan antara periwayat satu dengan periwayat yang lain. Dalam penelitian sanad juga kita akan meneliti apakah ada syadz (kejanggalan) dan ‘illah (cacat) dalam sanad tersebut.[3]
3.     Meneliti syâdz dan ‘Illat
Penelitian terhadap hadis belum dapat dikatakan selesai, meskipun diriwayatkan oleh orang yang tsiqah dan memiliki ketersambungan sanad, sebelum meneliti adanya kejanggalan (syâdz) dan kecacatan (‘illat).Penelitian terhadap kedua hal ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan penelitian terhadap keadaan periwayat dan persambungan sanad secara umum. Ulama ahli hadis banyak yang sependapat dan mengikuti kategorisasi syâdz menurut Imam syafi’i. Menurutnya, syâdz adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah tetapi bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan banyak periwayat lain yang juga tsiqah.
                            
Langkah untuk meneliti ada tidaknya syâdz adalah dengan membandingkan semua sanad yang ada yang membicarakan matan yang topik pembahasannya sama atau memiliki segi kesamaan. Sedangkan untuk meneliti ada tidaknya ‘illat dalam sebuah hadis, perlu diperhatikan langkah-langkah berikut: a) menghimpun dan meneliti seluruh sanad untuk matan hadis yang semakna, bila hadis yang bersangkutan memiliki mutâbi’ atau syâhid. b) meneliti seluruh periwayat dalam berbagai sanad berdasarkan kritik yang telah dikemukakan para ahli kritik hadis. Setelah itu, sanad yang satu diperbandingkan dengan sanad yang lain. Maka berdasarkan ketinggian ilmu hadis peneliti, dapat ditentukan apakah ada ‘illat di dalam sanad hadis yang bersangkutan ataukah tidak.[4]
Para ahli kritik hadis mengemukakan bahwa pada umumnya ‘illat diketemukan pada:
1.     Sanad yang tampak muttasil (bersambung) dan marfû’ (bersandar kepada Nabi), tetapi kenyataannya mauqûf (bersandar pada sahabat) walaupun sanadnya dalam keadaan muttasil.
2.     Sanad yang tampak muttasil dan marfû’ tapi kenyataannya mursal (bersandar kepada tabi’in) walau sanadnya dalam keadaan muttasil.
3.     Telah terjadi kerancuan di dalam hadis itu karena bercampur dengan hadis lain.
4.     Terjadi kekeliruan penyebutan nama periwayat yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan periwayat lain yang kualitasnya berbeda.
4.   Natijah Sanad
Langkah selanjutnya dalam penelitian sanad hadis ialah mengemukakan kesimpulan hasil penelitian. Langkah penyimpulan merupakan kegiatan akhir penelitian sanad hadis. Hasil penelitian yang dikemukakan harus berisi natijah (kongklusi). Dalam mengemukakan natijah harus disertai argumen-argumen yang jelas, semua argumen dapat dikemukakan sebelum ataupun sesudah rumusan natijah dikemukakan.
5.   Naqd Matan
Penelitian terhadap matan hadis meliputi langkah-langkah sebagai baerikut; pertama, meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya. Kedua, meneliti susunan lafadz berbagai matan yang semakna. Ketiga, meneliti kandungan matan.[5]
Suatu matan dinyatakan maqbul (diterima) sebagai matan hadis yang shahih apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
a.   Sanadnya shahih.
b.   Tidak bertentangan dengan hadis mutawatir atau hadis ahad yang shahih.
c.   Tidak bertentangan dengan petunjuk Al Qur’an.
d.   Sejalan dengan alur akal sehat.
e.   Susunan pernyataannya menunjukkan cirri-ciri kenabian.[6]


Konsep Penelitian Sanad Hadis (Kritik Sanad) Bag. 3




[1].Ahmad Husain, Kajian Hadits Metode Takhrij, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), hlm. 90 – 91
[2].Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Hamzah, 2009), hlm. 233
[3]. M. syuhudi Ismail, Op. Cit.,  hlm. 65
[4] ______. 2015. Metodologi Penelitian Hadist. Diakses darai https://darunnajah.com/metodologi-penelitian-hadis/

[5]. Ibid, hlm. 97 – 121
[6]. Bustamin dan M. Isa, Op. Cit, hlm. 64

Disqus Comments