Case Study - Pendidikan Islam Multikultural (Bag. 1)


A. Latar Belakang
Secara etimologis multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik.[1] Disebut juga sebagai sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dankesederajatan baik secara individual maupun secara kelompok sosial budaya.[2] Dengan kata lain, multikulturalisme berbicara tentang aspekdeskriptif keanekaragaman (multikultural) yang disikapi secara normatif (multikulturalisme).[3]


Multikulturalisme akan menjadi pengikat dan jembatan yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan kesukubangsaan dan suku bangsa dalam masyarakat yang multikultural. Perbedaan itu dapat terwadahi baik di tempat-tempat umum, seperti tempat kerja dan pasar, serta sistem nasional dalam hal kesetaraan derajat secara pendidikan, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Perlu disadari bahwa pada masyarakat majemuk terdapat perbedaanperbedaan yang disebabkan oleh sosio-kultur yang berbeda-beda.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, multikulturalisme merupakan budaya yang menghubungkan pemahaman yang berbeda beda agar menjadi satu tujuan yang berkesinambungan dengan tidak menimbulkan side effect. Dengan begitu individu dengan individu maupun indvidu antar kelompok dapat saling menghargai sehingga tercapai sebuah persatauan antar bangsa.
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak lepas dari interaksi atau hubungan sosial antar individu maupun kelompok yang kodratinya saling membutuhkan satu sama lain dalam menjalani kehidupannya. Interaksi atau hubungan sosial manusia dimulai dari lingkungan keluarga yang kemudian berkembang ke lingkungan sekolah, dan berlanjut ke lingkungan yang lebih luas yaitu lingkungan masyarakat.
Lingkungan sekolah adalah tempat karakter pribadi siswa dibentuk selain pergaulan di lingkungan keluarga dan masyarakat melalui hubungan sosial yang baik serta positif. Jika lingkungan memberikan hubungan sosial yang baik maka pribadi anak akan terbentuk dengan baik. Begitu pun sebaliknya, jika hubungan sosial memberikan interaksi yang kurang baik akan menimbulkan hubungan yang tidak harmonis antar anak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi di lingkungan sekolah dengan latar belakang yang berbeda-beda suku, agama, ras, dan budaya yaitu berinteraksi secara lebih berhatihati dan saling menghargai agar tidak menimbulkan timbal balik atau respon yang buruk.
Namun dalam kenyataannya budaya multikultural ini mulai terpecah dan luntur di kalangan masyarakat bangsa Indoensia saat ini, terutama di kalangan siswa di lingkungan sekolah. Sehingga dapat menyebabkan kesenjangan sosial di lingkungan sekolah. Permasalahan yang ditemui di lapangan antara lain seperti siswa yang saling mengejek mengenai status sosial, perbedaan budaya, perbedaan agama, warna kulit, dan bahkan perbedaan dialek antar teman sebayanya.
Perbedaan seperti ini meskipun dianggap sebagai celotehan biasa tetapi jika sering dilakukan akan mengakibatkan perpecahan dan pertikaian kecil yang lambat laun akan menjadi masalah besar antar individu. Hal seperti ini akan mengakibatkan persatuan menjadi kurang.
Seruan damai dan harmonisasi dalam realitas kehidupan multikultural juga diperkuat dalam normatif Islam. Seorang muslim penting untuk melakukan relasi sosial tanpa tersekat oleh ragam budaya maupun keyakinan sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat: 13 menyebutkan:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dari penjabaran yang telah penulis sampaikan maka, membahas case study (Studi Kasus) multikultural khususnya dalam pembinaan dan pembelajaran siswa sangat penting dilakukan, hal ini bertujuan agar dikemudian hari nanti anak didik menjadi manusia dewasa yang senantiasa dapat menerima perbedaan.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang dikemukan diatas, dapat ditarik rumasan masalah sebagai berikut, Bagaimana case study (studi kasus) pendidikan multikultural di lingkungan sekolah?

C. Batasan Masalah
Case study pendidikan multikulturan di batasi pada lingkungan pendidikan sekolah.di sekolah





Baca Artikel Selanjutnya: Pembahasan (BAB 2) Klik


[1] Mahfud, Choirul. 2011. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. h. 75
[2] Jary, David dan Julia Jary. 1991 . Multikulturalism: Dictionary of Sosiology, (terj). New york: Harper. h. 319
[3] Benyamin, Molan. 2015. Multikulturalisme, Cerdas Membangun Hidup Bersama yang Stabil dan Dinamis. Jakarta: PT Indeks. h. 29

Disqus Comments