A. Gambaran
Multikultural di Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan tempat
bagi siswa untuk menimba ilmu, berinteraksi dan sekaligus bersosialisi baik
dengan guru, kawan, serta pengelola sekolah. Maka setiap individu yang yang
terlibat dalam proses pendidikan di sekolah sudah semestinya menyadari setiap
kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah.
Pendidikan multikultural memang
tidak memiliki dampak signifikan terhadap sekolah-sekolah yang siswanya hanya
dari lingkungan sekitar sekolah. Namun perlu disadari kesenjangan multikultural
biasanya akan sangat mudah sekali dilihat pada sekolah-sekolah yang memiliki
siswa dari berbagai daerah yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
Kompleksitas kultur siswa pada
sekolah sekarang ini, tidak dapat dielakkan. Karena lembaga pendidikan wajib
menerima siapapun calon siswa yang akan masuk ke sekolah. Hal ini merupakan
salah satu embrio kemunculan pluralisme atau kemajemukan dalam berbagai aspek
kehidupan sekolah. Aspek-aspek itu diantaranya, kebudayaan, suku bangsa, dan
adat istiadat dan tentunya sangat rentan mengalami kemajemukan dalam lingkungan
sekolah itu sendiri.
Indonesia jika dilihat dari aspek
agama, sosiokultural, maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sangatlah
beragam, diakui atau tidak, kondisi dapat menimbulkan berbagai persoalan
seperti yang sekarang dihadapi bangsa ini. Maka harus ada upaya lebih serius
yang harus segera dikemas oleh dunia pendidikan kita dalam menghadapi
kompleksitas keberagaman masyarakat indonesia. yakni memalui pendidikan
multikultural di sekolah.
Dari uraian diatas, kesenjangan itu
masih sering muncul akibat kegagapan pamangku kepentingan sekolah terhadap
pemahaman pendidikan multikultural. Hal ini dapat dikelompakkan menjadi dua.
Yakni, masalah pemahaman kepala sekolah, dosen/guru, dan siswa tentang
pendidikan multikultural, dan kedua, masalah yang muncul dalam praktik
mengimplementasikan pendidikan multikultural dalam praktik kehidupan di sekolah
serta dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.
B. Identifikasi
Studi Kasus Multikultural di Sekolah
Berangkat dari gambaran kondisi
multikultural di sekolah, maka sering sekali muncul mula adanya kesenjangan
multikultural dalam lingkungan sekolah berawal dari hal-hal yang kadang kurang
diperhatikan. Antara lain, kurangnya sikap toleransi sesama siswa atau kawan,
adanya kecemburuan sosial yang bermuara pada prilaku pilihkasih, kurangnya
etika dalam pergaulan yang sesuai dengan adab pergaulan, kurangnya rasa
persaudaraan dan kesadaran atas hak dan kewajiban.
Sebagai contoh sikap tersebut dalam
pergaulan yakni, menirukan logat bahasa tertentu dengan maksud senda gurau. Hal
ini bisa saja sebagai guyonan/sendagurau, namun bisa saja kemudian terjadi
ketersinggungan. Contoh kecil ini sering terjadi, namun bagi seseorang yang
kurang memiliki kepekaan sosial adakalanya dianggap sebagai hal biasa.
Pendidikan multikultural merupakan
proses pendidikan dimana anak didik dilayani dengan pembelajaran dan pengalaman
yang mengakui latar belakang budaya pada semua individu dan melalui mana mereka
disiapkan untuk mengembangkan kehidupan dalam masyarakat yang lebih seimbang.[1]
Ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural harus diakui sebagai
proses.
Sensitifitas terhadap gejala
kesenjangan multikultural disekolah harus senantiasa menjadi perhatian khusus
bagi siapapun warga sekolah. Sehingga hal-hal sekecil apapun yang dapat
bermuara pada kesenjangan multikultural dapat diantisipasi memalui pendekatan
emosional individu maupun pendekatan kultur.
Baca Artikel Sebelumnya (BAB 1): Klik
Baca Lanjutan Pembahasan: Klik
[1]
Baker, G.C. (1994). Planning dan organizing for multicultural instruction.
(2nd). California: AddisonWesley Publishing Company. H. 9.
