Case Study - Pendidikan Islam Multikultural (Bag. 2 - Pembahasan)




A. Gambaran Multikultural di Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan tempat bagi siswa untuk menimba ilmu, berinteraksi dan sekaligus bersosialisi baik dengan guru, kawan, serta pengelola sekolah. Maka setiap individu yang yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah sudah semestinya menyadari setiap kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah.
Pendidikan multikultural memang tidak memiliki dampak signifikan terhadap sekolah-sekolah yang siswanya hanya dari lingkungan sekitar sekolah. Namun perlu disadari kesenjangan multikultural biasanya akan sangat mudah sekali dilihat pada sekolah-sekolah yang memiliki siswa dari berbagai daerah yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
Kompleksitas kultur siswa pada sekolah sekarang ini, tidak dapat dielakkan. Karena lembaga pendidikan wajib menerima siapapun calon siswa yang akan masuk ke sekolah. Hal ini merupakan salah satu embrio kemunculan pluralisme atau kemajemukan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah. Aspek-aspek itu diantaranya, kebudayaan, suku bangsa, dan adat istiadat dan tentunya sangat rentan mengalami kemajemukan dalam lingkungan sekolah itu sendiri.
Indonesia jika dilihat dari aspek agama, sosiokultural, maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sangatlah beragam, diakui atau tidak, kondisi dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti yang sekarang dihadapi bangsa ini. Maka harus ada upaya lebih serius yang harus segera dikemas oleh dunia pendidikan kita dalam menghadapi kompleksitas keberagaman masyarakat indonesia. yakni memalui pendidikan multikultural di sekolah.
Dari uraian diatas, kesenjangan itu masih sering muncul akibat kegagapan pamangku kepentingan sekolah terhadap pemahaman pendidikan multikultural. Hal ini dapat dikelompakkan menjadi dua. Yakni, masalah pemahaman kepala sekolah, dosen/guru, dan siswa tentang pendidikan multikultural, dan kedua, masalah yang muncul dalam praktik mengimplementasikan pendidikan multikultural dalam praktik kehidupan di sekolah serta dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran.
  
B. Identifikasi Studi Kasus Multikultural di Sekolah
Berangkat dari gambaran kondisi multikultural di sekolah, maka sering sekali muncul mula adanya kesenjangan multikultural dalam lingkungan sekolah berawal dari hal-hal yang kadang kurang diperhatikan. Antara lain, kurangnya sikap toleransi sesama siswa atau kawan, adanya kecemburuan sosial yang bermuara pada prilaku pilihkasih, kurangnya etika dalam pergaulan yang sesuai dengan adab pergaulan, kurangnya rasa persaudaraan dan kesadaran atas hak dan kewajiban.
Sebagai contoh sikap tersebut dalam pergaulan yakni, menirukan logat bahasa tertentu dengan maksud senda gurau. Hal ini bisa saja sebagai guyonan/sendagurau, namun bisa saja kemudian terjadi ketersinggungan. Contoh kecil ini sering terjadi, namun bagi seseorang yang kurang memiliki kepekaan sosial adakalanya dianggap sebagai hal biasa.
Pendidikan multikultural merupakan proses pendidikan dimana anak didik dilayani dengan pembelajaran dan pengalaman yang mengakui latar belakang budaya pada semua individu dan melalui mana mereka disiapkan untuk mengembangkan kehidupan dalam masyarakat yang lebih seimbang.[1] Ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural harus diakui sebagai proses.
Sensitifitas terhadap gejala kesenjangan multikultural disekolah harus senantiasa menjadi perhatian khusus bagi siapapun warga sekolah. Sehingga hal-hal sekecil apapun yang dapat bermuara pada kesenjangan multikultural dapat diantisipasi memalui pendekatan emosional individu maupun pendekatan kultur.


Baca Artikel Sebelumnya (BAB 1): Klik
Baca Lanjutan Pembahasan: Klik

[1] Baker, G.C. (1994). Planning dan organizing for multicultural instruction. (2nd). California: AddisonWesley Publishing Company. H. 9.

Disqus Comments