Case Study - Pendidikan Islam Multikultural (Bag. 3 - Lanjutan Pembahasan dan Kesimpulan)


Dimensi Pendidikan Multikultural
James A. Banks, telah mengidentifikasi dimensi-dimensi pendidikan multikultural yang dapat membantu guru dalam mengimplemen-tasikan beberapa program pendidikan yang mampu memenuhi dan merespon terhadap perbedaan anak didik. Terdapat lima dimensi pendidikan multikultural, menurut Banks, yaitu: (1) content integration, (2) the knowledge construction process, (3) prejudice reduction, (4) an equity pedagogy, dan, (5) an empowering school culture & social structure.[1]




1. Integrasi konten (content integration). Integrasi isi berkaitan dengan sejauh mana guru menggunakan contoh dan konten dari berbagai budaya dan kelompok untuk menggambarkan konsep kunci, prinsip, generalisasi, dan teori di wilayah topik mereka mengenai disiplin tertentu.
2. Proses konstruksi pengetahuan (the knowledge construction process). Hal ini terkait dengan sejauh mana guru membantu siswa untuk memahami, memeriksa dan penentuan bagaimana asumsi budaya implisit, kerangka acuan, berpandangan, dan bias dalam pengaruh disiplin terhadap cara pengetahuan dibangun dalamnya.
3. Pengurangan prasangka (prejudice reduction). Dimensi ini fokus terhadap karakteristik sikap rasial siswa dan bagaimana mereka dapat dimodifikasi dengan metode dan materi pengajaran.
4. Pedagogi yang setara (an equity pedagogy). Ini ada ketika guru mengubah pengajaran mereka dalam cara yang memfasilitasi pencapaian akademik siswa dari kelompok ras, budaya, dan sosial-kelas yang beragam. Ini termasuk dengan berbagai gaya mengajar yang konsisten dengan gaya pembelajaran yang luas dan bervariasi dalam berbagai kelompok budaya & etnik.
5. Pemberdayaan kultur sekolah dan struktur sosial (an empowering school culture & social structure). Pengelompokan dan pelabelan praktik, partisipasi olahraga, ketidakseimbangan dalam prestasi, dan interaksi staf dan seluruh siswa antar etnik dan ras antara komponen budaya sekolah yang harus diperiksa untuk menciptakan budaya sekolah yang memberdayakan siswa dari beragam ras, etnik, dan kelompok budaya.
Kelima dimensi tersebut akan menentukan keberhasilan pendidikan multikultural yang dilaksanakan di sekolah. Dimensi-dimensi pendidikan multikulutral itu akan mewarnai sistem pembelajaran dan pendidikan yang berlangsung di sekolah, baik yang terkait dengan susbtansi atau isi pendidikan atau kurikulum, metode, fasilitas termasuk media, maupun kerangka kerjapelibatan komponen-komponen sekolah. Oleh karena itu, jika pendidikan multikultural di sekolah ingin berhasil, maka semua komponen sekolah, terutama guru, hendaknya konsisten dalam mengimplementasikan lima dimensi secara simultan dan komprehensif dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler.
Untuk menjamin implementasi lima dimensi pendidikan multikultural secara konsisten dan komprehensif, perlu didukung dengan manajemen sekolah yang efektif sesuai dengan local culture sekolah dan masyarakat sekitarnya.

Penerapan Pendidikan Multikultural di Sekolah
Beberapa kegiatan untuk melatih kebersamaan/pembauran dan mengembangkan hubungan baik warga sekolah dapat diwujudkan melalui pengayaan dan pelatihan berkala, liburan bersama, outbound, silaturahmi, dan evaluasi regular. Melalui hal ini, maka manfaat yang dapat diambil yakni melatih berbagai sikap dalam keberagaman kultur serta menumbuhkan karakter kepemimpinan.
Budaya sekolah yang dibentuk oleh nilai-nilai multikulturalisme pun dapat direalisasikan melalui beberapa hal seperti berikut. (1) Penyediaan rumah ibadah dan pendopo yang terletak di kawasan sekolah. (2) Perayaan hari-hari besar agama dan Malam BhinnekaTunggal Ika. (3) Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing sebelum pelajaran pertama dimulai dan seusai pelajaran terakhir. (4) Pengaturan tempat duduk untuk interaksi dan pertukaran budaya yang optimal, serta student activities (aktivitas peserta didik).
Selanjutnya, penerapan endidikan Multikultural juga harus diintegrasikan ke semua mata pelajaran, menyadari bahwa kurikulum merupakan salah satu aspek pendidikan multikultural yang memiliki peran untuk membina para guru dalam mendidik peserta didik di dalam kelas, maka pengembangan kurikulum dan model pembelajaran di kelas yang multikultural harus dijalankan dijalankan lebih sistematis dan terstruktur.
Dari uraian di atas, bila penerapan pendidikan multikultural di sekolah dapat dilankan dengan baik, maka diharapkan persamaan hak, toleransi, keadilan, rasa persaudaraan dan etika pergaulan dapat terjaga dengan baik. Sehingga rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan kultur dapat diterima dengan besar hati. Terlebih lagi hal ini dapat terlaksana secara terus-menerus, maka perbedaan itu adalah bagaian dari asset khasanah kehidupan dalam membentuk keshalihan sosial.

  
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kesenjangan dalam pendidikan multikulturan di sekolah hingga saat ini masih sering terjadi. Hal ini disebabnya kurangnya pemahaman terhadap pendidikan multikultural, sehingga pada tataran aplikasinya juga masih rendah.
Dalam case study pendidikan multikultural di lingkungan sekolah, harus dimenejemen secara mandiri sekolah dalam secara baik, yakni dimulai identivikasi terhadap keragaman budaya serta perilaku sosial warga sekolah. Dengan demikian kesenjangan yang mungkin saja timbul dalam kehidupan sosial sekolah dapat diketahui secara dini dan dapat disolusikan.



Baca Artikel Sebelumnya : Klik - BAB 1
Baca Artikel Sebelumnya : Klik - BAB 2


[1] Banks, J.A. (1999). An introduction to multicultural education. Boston: Allyn & Bacon.

Disqus Comments